Juli 19, 2008

Seperti Main Piano

Ya! Seperti itulah ketika aku menulis. Selalu kubayangkan seperti main piano. Keyboard komputer yang kutekan ibaratnya tuts-tuts piano. Kutekan satu-persatu. Berurutan sesuai kata yang kurangkai.

Tak tahu benar kenapa aku mengibaratkannya seperti main piano. Tapi mungkin karena kesamaan menekan tuts-tuts. Di samping sejak dulu aku ingin bisa main piano. Lebih dari itu, tak ada alasan lain rasanya. Kalau kata para pemusik sih piano itu rajanya alat musik. Karena nadanya yang paling komplit. Bahkan bisa sampai delapan oktaf. Sementara, kata (baca: bahasa) kupikir juga medium yang paling sempurna untuk menyalurkan ide, gagasan, atau hasrat kita.

Dan memang tak sepenuhnya seperti main piano, sebab tak ada partitur yang kujadikan panduan menggerakkan tuts. Pedomanku lebih ke tempo lagu yang tengah kuputar. Bila tempo lambat, gerak jari-jemariku di atas keyboard ikut melambat. Sebaliknya, bila cepat, kalimat yang kurangkai bisa sampai dua-tiga paragraf setiap menit.

Bukan jumlah yang banyak memang. Karena aku sering lebih mementingkan keutuhan makna kalimat yang kutulis. Tak ada ambigu apalagi wagu makna. Aku tak ingin pembaca menjadi salah tangkap apa yang kumaksud.

Saking mementingkan keutuhan makna, aku sering mengambil jeda. Bukan untuk ambil nafas, tapi bertanya kepada kawan yang lebih paham atau membolak-balik kamus dan buku untuk mericek kata atau istilah yang kutulis. Karena itu aku sangat mementingkan pusat data. Selain perpustakaan pribadi, file-file penting juga kusimpan rapi dalam komputer agar mudah dicari saat kubutuhkan.

Kembali ke soal piano tadi, saat menulis aku sering bayangkan diriku seperti seorang pianist. Bisa yang tengah asyik bermain piano sendiri atau tengah mengadakan pertunjukan dengan disaksikan ribuan orang.

Walau disaksikan ribuan orang, aku tak gemetar—meski sifat asliku pemalu—juga tak khawatir ditertawakan orang. Yang aku rasakan cuma berkonsentrasi pada apa yang kutulis. Aku ingin memberikan pertunjukan terbaik bagi mereka. Yang membuat mereka merasa mendapat “sesuatu” dari apa yang kutulis.

Karena itu, aku seperti menyatu dengan apa yang tengah kutulis. Bukan, bukan kesetanan... Mungkin lebih tepatnya aku tengah trance. Aku ikuti saja irama pikiran dan jiwa yang kemudian diterjemahkan oleh jari-jariku dengan menari lincah di atas keyboard. Aku tumpahkan semuanya dalam tulisan. Saat asyik trance, aku bisa tidak memedulikan banyak hal. Termasuk tidur, mandi, makan. Pengecualiannya “ke belakang”, minum kopi, merokok, dan menemui-Nya.

Soal selera musik, sebetulnya aku suka segala jenis musik. Terutama jazz. Nah disitu repotnya. Tempo jazz yang lebih lambat, kadang membuat jari-jariku bergerak lambat. Sementara, tuntutan deadline memaksa tulisan cepat rampung. Kusiasati saja dengan memutar lagu bertempo cepat. Lagu-lagu yang memacu adrenalin seperti R and B biasanya yang kupilih. Itu serasa membuatku main piano di tempat clubbing dan jari-jariku ikut dugem.

Namun, musik jazz tetap menjadi kesukaannku. Terutama ketika tengah malam. Di situasi hening, jenis musik ini mampu membuatku tenang dan berpikir lebih jernih. Selain juga tak mengganggu waktu istirahat tetangga kiri-kanan.
Kalau dangdut, ehmm aku jarang setel. Bukan soal kampungan atau musik kelas bawah. Tapi irama gendangnya seperti menendang-nendang kepalaku, membuat sulit berkonsentrasi. Sehingga tak jadi mengetik dan malah bergoyang sungguhan.

Masih mending bila rock. Drum yang menjadi komando ketukannya masih bisa diterima hati. Apalagi jika liriknya bagus. Kadang bisa memunculkan inspirasi baru untuk tulisan.

Oh ya, dalam menulis, struktur atau komposisi tulisan kuberi banyak perhatian. Sebab, tulisan yang baik itu menurutku adalah yang serasi. Awalan, isi, dan penutup saling bertaut. Padu padan antar-kata atau antar-kalimat enak dibaca, tidak membosankan, dan meaningful. Sehingga membuat pembaca rela menyimak sampai titik terakhir. Seperti pertunjukan piano juga, ketika tuts terakhir ditekan, semua penonton berdiri dan memberi standing applause.

Plok...plok...plok...

Read more...

2 komentar:

  1. Nice article! Lets go 4 writing forever

    BalasHapus
  2. Bagus mas. ayo posting terus!

    BalasHapus

Ayo menulis untuk kemajuan bangsa ini. Saya tunggu komentar anda... :-)

Web Hosting